Tegal Jateng ,fakta hukum. Id
Tarub, Proyek pelebaran jalan sekaligus pembangunan rabat beton jalan raya kemantran -balamoa , dengan nilai anggaran mencapai Rp20 miliar yang bersumber dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menuai sorotan tajam dari masyarakat.

Pasalnya, meski pengerjaan belum selesai, sejumlah titik pada ruas jalan tersebut sudah mengalami kerusakan berupa retak hingga patah.

Proyek yang dikerjakan di wilayah Tarub -Pangkah Kabupaten Tegal ini sedianya berlangsung selama enam bulan, dimulai sejak Januari dan ditargetkan rampung pada Juni 2026.
Namun hingga memasuki bulan ketiga, progres pekerjaan disebut masih jauh dari kata selesai. Salah satu faktor yang disebut memengaruhi keterlambatan adalah terhentinya aktivitas proyek selama momentum Hari Raya Idul Fitri.
Meski demikian, perhatian publik justru tertuju pada kualitas pekerjaan yang dinilai kurang maksimal.
Berdasarkan pantauan di lapangan, kerusakan pada rabat beton sudah mulai terlihat, padahal usia pengerjaan baru sekitar satu bulan sejak dilakukan pengecoran.
Beberapa bagian rabat beton tampak mengalami retakan memanjang, bahkan di sejumlah titik ditemukan kondisi patah yang cukup parah hingga menembus dari permukaan atas ke bagian bawah.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terkait daya tahan konstruksi dalam jangka panjang.
Adji, kamis 02/04 /2026 lembaga kebijakan pengembangan publik Desa Karangjati, mengungkapkan bahwa sejak awal proses pekerjaan, indikasi masalah sebenarnya sudah terlihat. Ia menyoroti tahap awal pelebaran jalan yang dinilai kurang matang.
“Dari awal pengerjaan pelebaran jalan sudah terlihat ada yang pecah. Bahkan saat proses pengaspalan untuk dasar jalan, ada beberapa bagian yang amblas. Itu menunjukkan persiapan konstruksinya kurang maksimal,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut seharusnya menjadi perhatian serius bagi pelaksana proyek sebelum melanjutkan ke tahap pengecoran rabat beton.
Namun yang terjadi, setelah pengecoran dilakukan, dalam waktu relatif singkat justru muncul kerusakan yang lebih signifikan.
“Belum lama dicor, sudah banyak yang retak bahkan patah. Ada yang sampai terbelah dari atas sampai bawah. Kalau seperti ini, jelas sangat merugikan,” tambahnya.
Ia juga menegaskan bahwa proyek dengan nilai anggaran besar seharusnya mampu menghasilkan kualitas pekerjaan yang baik dan sesuai standar teknis.
Adji ” menilai, jika hasil pekerjaan tidak maksimal, maka berpotensi menjadi pemborosan anggaran negara.
“Anggaran sampai Rp20 miliar itu bukan kecil. Harusnya dikerjakan dengan hati-hati dan profesional. Kalau hasilnya seperti ini, sangat disayangkan,” tegasnya.
Selain itu, masyarakat setempat juga mulai mempertanyakan pengawasan dari pihak terkait, baik dari kontraktor pelaksana maupun instansi pemerintah yang bertanggung jawab.
Mereka berharap ada evaluasi menyeluruh terhadap proyek tersebut, termasuk kemungkinan dilakukan perbaikan pada bagian yang mengalami kerusakan.
Hingga saat ini, belum ada penjelasan resmi mengenai penyebab utama retak dan patahnya rabat beton di sejumlah titik tersebut.
Sejumlah faktor seperti kualitas material, metode pengerjaan, kondisi tanah dasar, hingga cuaca menjadi dugaan awal yang perlu diteliti lebih lanjut.
Masyarakat berharap pihak Kementerian PUPR maupun instansi terkait segera turun tangan untuk melakukan pengecekan langsung di lapangan.
Hal ini penting guna memastikan proyek berjalan sesuai spesifikasi serta memberikan manfaat optimal bagi pengguna jalan.
Jika tidak segera ditangani, kerusakan yang terjadi dikhawatirkan akan semakin meluas dan berdampak pada keselamatan pengguna jalan.
Selain itu, kondisi ini juga berpotensi menambah biaya perbaikan di kemudian hari.
Dengan nilai anggaran yang besar, publik menaruh harapan agar proyek infrastruktur tersebut dapat memberikan hasil yang berkualitas, tahan lama, serta benar-benar menunjang aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat di wilayah Kabupaten Tegal.
Lp. : slmt
