Makian, Halsel | Fakta hukum id — Pulau Makian di Kabupaten Halmahera Selatan bukan hanya menyimpan jejak geologis dari aktivitas vulkanik yang masih aktif hingga kini, tetapi juga menyimpan warisan sejarah besar tentang asal mula peradaban Islam di Timur Nusantara. Di balik lebatnya hutan tropis dan lereng Gunung Makian yang menjulang, terdapat kisah gemilang tentang Kolano Muhammad Al-Baqir, seorang penguasa visioner yang berjasa membentuk cikal bakal Kesultanan Bacan dan mengantarkan ajaran Islam hingga ke pelosok Maluku Utara.
Dalam catatan-catatan sejarah dan tradisi lisan para tetua, Pulau Makian adalah salah satu wilayah pertama yang padat penduduk sejak abad ke-13. Berdasarkan arsip kolonial Belanda yang tersimpan di museum Leiden, suku Makian merupakan suku terbesar di kawasan Moloku Kieraha. Mereka mendiami tidak hanya Pulau Makian, tetapi juga tersebar di Kayoa, Kasiruta, Gane Barat, dan Gane Timur.
Penduduk Pulau Makian saat itu sudah sangat majemuk, terbentuk dari hasil percampuran etnis dan budaya melalui jalur perdagangan dan perkawinan silang. Ada bangsa Melayu dari Semenanjung, Arab, Banjar, Bugis, Minahasa, hingga Cina perantauan yang bermukim dan berdagang di wilayah ini. Kawin-mawin lintas budaya ini melahirkan bahasa campuran yang kini disebut Gorap Melayu, terbagi atas Gorap Melayu Awal (digunakan oleh suku Bacan) dan Gorap Melayu Akhir (digunakan oleh masyarakat Bobane Igo dan sekitarnya).
Bahasa ini bukan hanya alat komunikasi, melainkan simbol integrasi antar peradaban yang berpadu dengan bahasa isyarat lokal dan Islam sebagai spirit pemersatu. Dari sinilah muncul marga-marga besar seperti Al Yamani, Assegaf, Al Hadad, Al Basrah, Minangkabau Kumala, hingga Al Maghribi yang mewarnai sejarah sosial-politik Maluku Utara hingga kini.
Sentra Dagang dan Budaya Makian
Pada masa kepemimpinan Kolano Said Husein yang bergelar Muhammad Al-Baqir, Pulau Makian menjelma sebagai pusat perdagangan dan budaya. Tiga pelabuhan besar berdiri kokoh: tempat bersandarnya kapal dari Timur Tengah dan Asia Timur yang membawa rempah, sutra, dan naskah-naskah agama. Hal ini menjadikan Makian sebagai salah satu titik penting dalam jaringan dagang maritim internasional dan penyebaran Islam di timur Indonesia.
Dari pelabuhan inilah, Islam berkembang secara damai melalui pendekatan budaya dan bahasa. Kolano Muhammad Al-Baqir tidak hanya dikenal sebagai penguasa, tapi juga ulama dan dai yang mengajarkan nilai-nilai keadilan, ilmu pengetahuan, serta kedamaian. Ia dikenal sebagai penguasa Negeri Komalo Besi yang karismatik dan religius.
Gunung Makian dan Legenda Elang Raksasa
Tak lengkap membahas Makian tanpa menyinggung mitos Gunung Makian. Dikisahkan dalam legenda rakyat, seekor elang raksasa pernah mencoba memindahkan puncak Gunung Makian untuk menyambungkannya ke Gunung Gapilamo (sekarang Gamalama, Ternate). Namun, upayanya gagal, dan potongan gunung jatuh di wilayah Tidore, membentuk gunung kecil yang kini dikenal sebagai Gunung Maratara (Maitara). Dari kisah ini pula muncul istilah “Pulu Marahba” atau Pulau Marah dalam bahasa tua Tidore-Ternate.
Hijrah Kolano Muhammad Al-Baqir: Awal Kesultanan Bacan
Ketika situasi politik dan dakwah menuntut ekspansi, Kolano Muhammad Al-Baqir memutuskan untuk berhijrah ke Pulau Kasiruta. Hijrah ini bukan hanya strategi pertahanan, tetapi juga upaya memperluas penyebaran Islam ke wilayah selatan Halmahera. Dari tanah baru ini, lahirlah Kesultanan Bacan—yang dikenal oleh masyarakat sebagai Sigarah Astna Bacan.
Nama “Bacan” sendiri berasal dari istilah “limau Sigarah Astna Bacaan”, sebuah metafora spiritual yang digunakan Kolano untuk menggambarkan dakwah melalui bacaan Al-Qur’an. Kata “Bacaan” kemudian diserap menjadi “Bacan”, sebagai simbol penyatuan nilai Islam dengan budaya lokal.
Di tanah Bacan, Al-Baqir mendirikan sistem pemerintahan berbasis syariat, memperkenalkan pendidikan agama, dan membangun persekutuan politik yang menjalin hubungan erat dengan Kesultanan Ternate, Tidore, dan Jailolo. Kesultanan Bacan menjadi pusat penyebaran Islam ke wilayah Obi, Seram, dan bahkan Papua Barat.
—
Penutup
Jejak Kolano Muhammad Al-Baqir tidak hanya terpahat di batu nisan atau manuskrip tua, tetapi juga dalam kehidupan sosial masyarakat Maluku Utara hari ini. Bahasa, marga, sistem sosial, dan nilai-nilai Islam yang hidup di tengah masyarakat Bacan, Makian, dan Gane merupakan warisan tak ternilai dari peradaban yang pernah jaya di kaki Gunung Makian.
Pulau kecil ini, yang dahulu disebut Pulu Marahba, sejatinya adalah titik awal besar dari sejarah Islam Timur Nusantara—sebuah warisan yang patut dijaga dan dikenang oleh generasi sekarang.
Redaksi: Mito
Editor: Win
