Foto istimewa Gunung Slamet di Jawa Tengah menunjukkan peningkatan signifikan dalam dua pekan terakhir.
Tegal – Jateng fakta Hukum.id – Aktivitas vulkanik Gunung Slamet di Jawa Tengah menunjukkan peningkatan signifikan dalam dua pekan terakhir. Berdasarkan data Pos Pemantau Gunung Api Slamet, periode 16 Maret hingga 3 April 2026 mencatat lonjakan jumlah gempa yang mengindikasikan pergerakan fluida dan tekanan di dalam tubuh gunung.
Kepala Pos Pemantau Gunung Api Slamet, dalam rilis terbarunya, menyebutkan total kejadian gempa mencapai 1.487 kali. Rinciannya, 866 kali gempa Hembusan, 620 kali gempa Frekuensi Rendah, serta 1 kali gempa Vulkanik Dalam.
“Gempa hembusan yang dominan mengindikasikan keluarnya tekanan gas dari kawah, sementara gempa frekuensi rendah menandakan pergerakan magma di kedalaman,” jelas tim PVMBG setempat. Satu kali gempa vulkanik dalam yang terekam menjadi perhatian karena bisa menjadi sinyal awal suplai magma baru dari dapur magma.
Menyikapi peningkatan aktivitas ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) telah memutuskan untuk menutup seluruh jalur pendakian Gunung Slamet. Penutupan berlaku mulai 3 April 2026 hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Pos-pos pendakian di jalur Bambangan, Baturaden, Guci, dan jalur lainnya telah dipasang garis polisi dan spanduk peringatan. Petugas gabungan juga disiagakan untuk melakukan putar balik para pendaki yang masih mencoba mendekati zona rawan.
Masyarakat dan wisatawan diimbau untuk tidak melakukan aktivitas apapun dalam radius 3 kilometer dari kawah puncak Gunung Slamet. Larangan ini meliputi pendakian, berkemah, berburu, maupun kegiatan pertanian di lereng atas.
“Potensi bahaya saat ini adalah gas-gas beracun (CO2, H2S) yang terakumulasi di lembah-lembah dekat kawah, serta ancaman lontaran material pasir dan kerikil jika terjadi erupsi freatik,” kata Koordinator Reaksi Cepat BPBD.
Pemerintah daerah mengimbau seluruh warga di sekitar lereng Gunung Slamet, khususnya Kecamatan Baturaden, Kedungbanteng, dan Baturraden, untuk tetap tenang namun waspada.
“Jangan percaya isu hoaks yang tidak jelas sumbernya. Aktivitas Gunung Slamet terus dipantau 24 jam. Jika status naik menjadi Siaga (Level III) atau Awas (Level IV), kami akan segera menginformasikan melalui pengeras suara dan perangkat desa,” pesan otoritas setempat.
Penulis : Slmt
Editor : Redaksi
