Demak , Jateng ( fakta hukum.id ), Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi meninjau langsung korban bencana banjir yang mengungsi di Kantor Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak, Sabtu (4/4/2026).
Di pengungsian, warga tampak menempati ruang utama gedung, sebagian beristirahat di atas alas darurat, sebagian lain duduk di teras sambil menunggu kondisi di rumah mereka membaik.
Sebagai informasi, banjir akibat jebolnya tanggul Sungai Tuntang pada Jumat (3/4/2026) itu berdampak pada delapan desa di empat kecamatan, dengan jumlah pengungsi tercatat 2.839 jiwa. Titik terdampak tersebar di Kecamatan Guntur, Karangtengah, Wonosalam, dan Kebonagung.
Saat meninjau pengungsi, Luthfi nampak berdialog dengan warga, dan secara simbolis menyerahkan bantuan kepada pengungsi. Total bantuan Pemprov Jateng untuk penanganan banjir Demak mencapai Rp236.985.411, yang berasal dari BPBD Jateng, Dinas Sosial, Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Dinas PUPR, dan PMI Jateng.
Usai menyapa warga, Luthfi menggelar rapat terbatas untuk mengatasi persoalan tersebut. Rapat itu juga diikuti Bupati Demak Eistiâanah dan jajaran terkait.
Luthfi menegaskan, penanganan banjir Demak tidak bisa dilakukan parsial. Namun perlu ditangani secara komprehensif.
âKita mengatasi banjir ini tidak bisa parsial. Dari hulu sampai hilir itu harus dituntaskan,â kata dia.
Bersamaan dengan upaya penanganan menyeluruh itu, kebutuhan dasar warga terdampak harus tetap dipenuhi.
âPrinsipnya layanan dasar kepada masyarakat terdampak harus terpenuhi, mulai sekolah, kesehatan, bahan pokok, makanan, dan lain sebagainya, tidak boleh ketinggalan,â ujar Luthfi.
Warga Desa Trimulyo, Kecamatan Guntur, Musriâah menyatakan, dia harus mengungsi karena rumahnya terdampak adanya banjir tersebut. Dijelaskan, air datang sangat cepat saat tanggul tak lagi mampu menahan arus.
âKejadiannya sekitar pukul 10.00 WIB, saya di rumah. Tiba-tiba airnya mengalir deras sekali dari tanggul, lama-lama jebol,â bebernya.
Menjelang sore, air terus naik hingga warga dievakuasi dengan perahu.
âSetelah ashar kami dijemput perahu, waktu itu airnya udah setinggi dada,â ungkap Musriâah.
Lp; slmt
